[email protected] (0362) 21146

Festival Sangiang Api 2026 Resmi Dibuka, Dispar Dorong Kolaborasi dan Targetkan KEN 2027

BIMA — Festival Sangiang Api (FSA) Tahun 2026 resmi dibuka di Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Pembukaan festival dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar, S.P., M.Si., sebagai penanda dimulainya rangkaian kegiatan FSA 2026.

Pembukaan festival turut dihadiri oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Rahmatullah, S.H., Camat Wera, Kapolsek Wera, Danramil, para kepala desa se-Kecamatan Wera, Kepala UPT Dikbud Provinsi Wilayah VI yang hadir mewakili Wakil Gubernur NTB, para pihak sponsor, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat dan pelaku UMKM yang ikut meramaikan kegiatan.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sangiang, panitia, Pokdarwis, masyarakat, serta seluruh pihak yang telah ikut menyukseskan pelaksanaan Festival Sangiang Api tahun ini.

Menurutnya, penyelenggaraan FSA 2026 memiliki makna tersendiri karena berlangsung di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat masyarakat dan Pemerintah Desa Sangiang untuk tetap menghadirkan festival sebagai ruang promosi destinasi, pelestarian budaya, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

“Di tengah keterbatasan, Festival Sangiang Api tetap bisa kita laksanakan. Ini menunjukkan bahwa kalau ada kemauan, gotong royong dan kecintaan terhadap daerah, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya,” ujar Muhammad Akbar.

FSA, lanjutnya, tidak semata-mata menjadi agenda tahunan untuk memeriahkan kalender pariwisata. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya bahari masyarakat Bima, khususnya yang tumbuh dan berkembang di Sangiang.

Kedekatan masyarakat Sangiang dengan laut telah melahirkan berbagai tradisi dan keterampilan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Karena itu, keberadaan festival diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan melanjutkan tradisi tersebut.

Pada penyelenggaraan tahun 2026 ini, Festival Sangiang Api menghadirkan sejumlah kegiatan utama, yakni Lomba Sampan Layar Tradisional, Sampan Layar Mini, Bazaar UMKM, dan Lomba Simi atau menyelam secara tradisional.

Menurut Muhammad Akbar, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memperlihatkan karakter Sangiang kepada masyarakat luas.

“Dari hal-hal yang sederhana inilah identitas Sangiang kita tunjukkan. Identitas itulah yang kemudian kita kenalkan lebih luas,” katanya.

Menuju Karisma Event Nusantara 2027

Pengembangan Festival Sangiang Api ke depan juga diarahkan pada upaya memperluas jangkauan promosi Sangiang dan Kabupaten Bima. Oleh karena itu, Festival Sangiang Api kembali akan diusulkan untuk masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Tahun 2027.

Muhammad Akbar menegaskan, upaya tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada Dinas Pariwisata.

“KEN bukan pekerjaan Dinas Pariwisata saja. Kalau kita ingin festival ini naik kelas, kita harus naik kelas bersama-sama,” tegasnya.

Kolaborasi antara Dinas Pariwisata, OPD terkait, Pemerintah Desa, Pokdarwis, panitia, pelaku UMKM, komunitas, pemuda dan seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas festival.

Jika nantinya FSA berhasil masuk dalam KEN, festival tersebut diharapkan tidak lagi hanya menjadi ruang perayaan masyarakat Sangiang dan Bima, tetapi mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Menurutnya, ketika wisatawan datang ke Sangiang, yang mereka lihat bukan hanya festival, tetapi juga wajah Kabupaten Bima secara keseluruhan—mulai dari budaya, alam, produk UMKM hingga keramahan masyarakat.

“Kalau Festival Sangiang Api masuk KEN, yang mendapatkan manfaat bukan hanya Sangiang. Bima juga akan semakin dikenal. Dan ketika Bima semakin dikenal, tentu semakin banyak peluang ekonomi yang bisa terbuka bagi masyarakat,” ujarnya.

Kebersihan Jadi Perhatian Serius

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengabaikan persoalan kebersihan selama pelaksanaan festival.

Hal tersebut disampaikan berkaitan dengan pengalaman pada proses pengusulan FSA ke KEN tahun 2026. Saat dokumentasi kegiatan menjadi bagian dari bahan penilaian kurator, kondisi sampah yang terlihat berserakan di sejumlah titik menjadi salah satu catatan yang perlu mendapat perhatian.

Karena itu, ia meminta agar persoalan sampah tidak lagi dianggap sebagai urusan panitia semata.

Pelaku UMKM, pengunjung, masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat dalam festival diimbau untuk bersama-sama menjaga kebersihan kawasan.

“Jangan sampai kita ingin membawa Sangiang ke tingkat nasional dan internasional, tetapi persoalan sampah masih menjadi masalah kita,” katanya.

Ia juga meminta panitia memastikan manajemen sampah berjalan dengan baik selama kegiatan, mulai dari ketersediaan tempat sampah, pengumpulan, pengangkutan hingga pembersihan kawasan setelah seluruh rangkaian festival selesai.

“Festival yang baik bukan hanya festival yang ramai. Festival yang baik adalah festival yang ramai, tertib, bersih dan meninggalkan kesan yang baik,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima mengajak seluruh pihak menjadikan Festival Sangiang Api 2026 sebagai momentum untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan event. Beliau juga meminta doa dan dukungan masyarakat agar Festival Sangiang Api dapat lolos dalam Karisma Event Nusantara 2027.