[email protected] (0362) 21146

Dispar Kabupaten Bima Ikuti FGD Pengembangan Eco-Tourism NTB

Mataram, 19 Agustus 2026 — Dinas Pariwisata Kabupaten Bima turut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Eco-Tourism yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Barat (Disparekraf NTB), Rabu (19/8/2026). Dalam kegiatan ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Bima diwakili oleh Kepala Bidang Pemasaran, Rahmatullah, S.H.

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Rinjani, Hotel Lombok Raya, tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai unsur lintas sektor, mulai dari organisasi perangkat daerah, akademisi, asosiasi pariwisata, pengelola kawasan konservasi, desa wisata hingga media.

FGD ini menjadi ruang bersama untuk membahas pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan, kelestarian budaya, serta keterlibatan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Sejumlah isu strategis menjadi perhatian dalam diskusi, antara lain batas daya dukung lingkungan (carrying capacity), tata ruang kawasan wisata, pengelolaan sampah, efisiensi energi, perlindungan ekosistem, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan rantai nilai ekonomi pariwisata agar manfaatnya dapat lebih banyak dirasakan masyarakat di sekitar destinasi.

Dalam FGD tersebut dirumuskan empat pilar strategis pengembangan eco-tourism. Pertama, pembatasan kuota dan penetapan zona konservasi, termasuk penerapan carrying capacity pada destinasi yang memiliki ekosistem rentan serta pembagian zona konservasi, edukasi, dan pemanfaatan wisata.

Kedua, standarisasi sarana ramah lingkungan, melalui penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu, pengurangan plastik sekali pakai, penggunaan energi terbarukan, serta penerapan efisiensi penggunaan air pada fasilitas akomodasi dan usaha pariwisata.

Ketiga, penguatan kelembagaan dan regulasi desa wisata, termasuk harmonisasi tata kelola retribusi antarlevel pemerintahan serta digitalisasi data pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

Keempat, pengembangan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berbasis pemberdayaan, antara lain melalui peningkatan kompetensi dan sertifikasi pemandu ekowisata serta penguatan kemitraan rantai pasok lokal agar produk masyarakat sekitar dapat masuk dalam ekosistem industri pariwisata.

Partisipasi Dinas Pariwisata Kabupaten Bima dalam forum tersebut diharapkan dapat memperkuat wawasan dan jejaring dalam mengembangkan destinasi wisata di Kabupaten Bima dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan. Konsep eco-tourism dinilai relevan dengan potensi Kabupaten Bima yang memiliki kekayaan alam, pesisir, pulau-pulau kecil, serta keragaman budaya dan tradisi masyarakat. Pengembangan potensi tersebut perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan masyarakat lokal menjadi bagian penting sekaligus penerima manfaat dari aktivitas pariwisata.

Melalui keterlibatan dalam forum lintas sektor seperti ini, Dinas Pariwisata Kabupaten Bima terus mendorong pengembangan pariwisata yang tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga berkelanjutan, bertanggung jawab, dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.